Je t’aime
Tok-tok-tok.
Suara ketukan pintu membangunkan Ammy dari
tidurnya. Ammy melihat jam sesaat, lalu kembali menggeluti tubuh dengan
selimutnya yang hangat.
Tok-tok-tok.
Ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini,
Ammy benar-benar terbangun dari tidurnya. Siapa,
sih, yang bertamu pagi buta begini? Batin Ammy sedikit kesal. Ammy bangkit
dari tidurnya, berjalan terseok-seok dari tempat tidurnya menuju pintu dan
membukanya.
Ternyata, yang mengetuk itu adalah nyonya
pemilik flat. Mrs. Wiles. Ammy menggerakkan tangannya. Memberi isyarat
pertanyaan, “Ada apa mengetuk pintu pagi-pagi sekali?”. Mrs. Wiles mengerti
isyarat Ammy tersebut. “Bisa kau bantu aku pagi ini? Aku membutuhkan
bantuanmu.” Kata Mrs. Wiles. Ammy mengangguk, lalu mengambil mantelnya.
“memangnya, kita mau ke mana?” isyarat Ammy. “sudahlah, kau ikuti aku saja
dulu.” Mrs. Wiles menarik pelan tangan Ammy. Ammy mengikuti langkah Mrs. Wiles.
Mrs. Wiles membawa Ammy ke rumahnya. Ammy
melihat ada taksi yang terparkir di depan rumahnya. Tanpa basa-basi, Mrs. Wiles
menyuruh Ammy masuk.
“Ammy, hari ini aku akan pergi ke luar
negeri untuk waktu yang cukup lama.” Ujar Mrs. Wiles yang kemudian menatap
Ammy. “aku akan pergi ke New York.” Lanjutnya. Ammy mengangkat kedua alisnya
tinggi-tinggi. Mrs. Wiles tersenyum simpul. “Ibuku sakit. Dan aku harus
menemaninya.” Katanya. “sebagai gantinya aku tidak ada di rumah, keponakanku
akan tinggal di sini.” Mrs. Wiles menyerahkan kunci rumahnya kepada Ammy dan
mengerjap-ngerjap jail. Ammy menerimanya dengan alis yang terangkat sebelah.
“kuharap, kau tidak sampai hati padanya.” Ujar Mrs. Wiles sambil tertawa kecil.
“dia itu guru di kota ini. Pria yang penuh kejutan.” Lanjutnya.
Ammy hanya menghela napas. Lalu tersenyum
sambil memberi isyarat, “Tenang saja, itu tidak akan terjadi.”. Mrs. Wiles
tersenyum sambil mengusap pipi Ammy. “Aku hanya bercanda.” Katanya lalu memeluk
Ammy.
“Oke, jaga dirimu, ya, sayang.” Mrs. Wiles
men-cipika-cipiki Ammy lalu masuk ke dalam taksi. Ammy mengangguk lalu
tersenyum. Ammy melambaikan tangan. Mrs. Wiles telah dibawa pergi oleh taksi.
Ammy menghela napas. Kemudian kembali ke
flatnya yang ada di atas. Dan tidur.
*****
“Ammy,
tugasmu hari ini hanya memindahkan buku-buku yang ada di dus itu ke dalam rak.”
Perintah Mr. Gordon sambil menunjuk 3 buah dus besar yang ada di depannya. Ammy
tersenyum lalu mengangguk. Mr. Gordon pun pergi meninggalkan Ammy. Ammy pun
mengerjakan tugasnya dengan baik.
“Aku sudah selesai, Mr. Gordon.” Isyarat
Ammy. Mr. Gordon tersenyum. ‘Mengerti’ dengan apa yang Ammy isyaratkan.
“Baiklah, Ammy, kau boleh pulang.” Kata Mr. Gordon. Ammy pun pamit dan
mengambil tasnya.
Sore ini, hujan turun cukup deras. Ketika
Ammy tiba di depan flatnya, ia melihat seorang pria yang sedang tertidur di
kursi teras rumah Mrs. Wiles. Tiba-tiba, ia teringat dengan keponakan Mrs.
Wiles. Ammy segera menghampiri pria itu.
-
William
Hardnes merasa ada yang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Will terbangun.
Samar-samar, Will melihat seorang wanita cantik—berambut coklat kemerah-merahan
berdiri di hadapannya. Mungkin dia anak
flat yang diceritakan oleh bibi Wiles, batin Will.
“Kau ingin memberikan kunci?” Tanya Will
masih dengan muka mengantuk. Wanita yang ada di depannya mengangguk. Wanita itu
mengangkat tangan. Menyuruh Will untuk menunggu. Kemudian, wanita itu menaiki
tangga yang ada di teras. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa
kunci.
Wanita itu memberi isyarat, “Apakah kau
sudah lama menunggu?”. Will terkejut, ia diam sesaat. “Kau…?” Will tidak tega
melanjutkan. Tapi, wanita itu mengerti dan mengangguk. Will manggut-manggut.
“Kau mau masuk? Di luar sangat dingin.” Kata Will sambil memberi isyarat juga.
Ammy tersenyum lalu menggeleng.
*****
Will
sudah bersiap untuk pergi malam ini. Ketika membuka pintu, Will melihat
wanita—yang tadi siang yang sepertinya akan pergi juga. “Kau mau kemana?” Tanya
Will dengan isyarat. “Mencari makan malam.” Isyarat wanita itu. Will tersenyum.
“Bolehkah aku ikut bersamamu?” Tanya Will sambil memberi isyarat. Wanita itu mengangguk.
Akhirnya, Will dan wanita itu pergi makan malam bersama.
Langit malam kota Auckland malam ini
terlihat cerah dengan banyaknya bintang. “Jadi, disini ada tempat makan yang
enak dan nyaman?” Tanya Will sambil memberi isyarat. Wanita itu mengangguk. Ia mengajak Will ke sebuah kafe. “Selamat
datang…” sapa pelayan yang menyambut
di pintu masuk. Will dan wanita itu tersenyum. Ketika mereka masuk, udara
hangat menyeruak dari dalam kafe tersebut. Wanita itu membuka mantelnya. Will
pun membuka jas coat-nya. Lalu mereka
memberikannya pada pelayan yang tadi menyambut mereka.
“Anda ingin memesan apa?” Tanya pelayan
restoran. “Kau mau apa? Biar aku yang pesankan.” Ujar Will. Wanita
itu menoleh ke arah Will dan mengangkat kedua alisnya. Will tersenyum. Wanita
itu menunjuk sebuah menu yang ada di daftar menu. Will melihatnya lalu
memesankan pesanan-pesanannya pada pelayan. “Terima kasih…” Isyarat wanita itu. Will hanya tersenyum. Pelayan itu
langsung meninggalkan meja setelah
mencatat semua
pesanan.
“Jadi, siapa namamu?” Tanya Will sambil
memberi isyarat. Kali ini, wanita itu tidak memberi isyarat. Ia menuliskan
namanya di sehelai tissue. ‘Namaku, Ammy Huston.’ tulisnya dengan jelas dan
rapi. “Ammy…” Will menyebutkan ulang nama yang tertulis di tissue itu. Ammy
tesenyum dan mengangguk. “Kau… bisa mendengarku bicara?” Tanya Will hati-hati.
Ammy mengangguk lagi. “Aku bukan tunarungu. Aku hanya bisu.” Isyarat Ammy. Will
manggut-manggut mengerti. “Mengapa kau langsung bisa mengerti isyaratku?” Tanya
Ammy dengan isyarat. “Pertama, karena aku adalah keponakan bibi Wiles. Kedua,
karena aku adalah seorang guru.” Jawab Will santai, kali ini tanpa isyarat.
Ammy mengangkat sebelah alisnya. “Apa hubungannya dengan guru?” Tanya Ammy
lagi. Will tersenyum. “lain waktu, aku akan mengajakmu ke tempatku mengajar.”
Jawab Will. Ammy mengangguk senang. “Coba ceritakan tentang dirimu.” Kata Will.
Ammy menatap Will sebentar, kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan secarik
kertas dan bolpen. Ia menuliskan tentang dirinya di kertas tersebut. Cukup
panjang. “Aku tidak sembarangan memberi tahu orang lain tentang siapa diriku.”
isyarat Ammy. “Bacalah.” Ammy menyodorkan kertas tersebut. Will menerimanya dan
langsung membacanya.
“Namaku
Ammy Huston.
“Aku tidak terlahir sebagai bayi yang bisu
ataupun tunarungu. Aku terlahir sebagai bayi yang normal.
“Aku berasal dari Prancis. Tepatnya di
Paris, Prancis. Disana, orang-orang mengenalku sebagai penyiar radio salah satu
stasiun radio swasta terkenal di Paris. Sudah tiga tahun aku bekerja sebagai
penyiar di Paris.
“2 tahun lalu, aku mengalami kecelakaan
besar yang menyebabkan dampak yang besar juga pada kehidupanku. Suara yang aku
banggakan hilang. Dan aku sangat syok sekali.
“Karena traumaku yang dalam, aku pindah ke
tempat di mana orang-orang tidak ada yang mengenalku. Meninggalkan orang tuaku,
saudara-saudaraku, dan pendengar-pendegarku dengan alasan yang tidak jelas.
Memulai kehidupan yang ‘baru’ sebagai wanita yang bisu. Dan Auckland ini,
adalah kota yang aku pilih untuk mengukir kehidupan yang ‘baru’ itu.
“Aku bersyukur karena disini ada banyak
orang yang mengerti keadaanku. Maka dari itu, aku akan berusaha menjadi yang
terbaik.”
*****
Selama
makan malam berlangsung, Will berbagi pengalaman dengan Ammy. Sesekali, mereka
berdua tertawa. Will merasa senang, makan malam kali ini terasa berbeda.
Biarpun banyak wanita normal yang pernah Will ajak makan malam bersama, Will
tidak pernah merasa sesenang malam ini sebelumnya. Will tidak peduli wanita
cantik dihadapannya ini bisu atau tidak. Yang penting, Will sekarang senang
berada bersama Ammy.
-
William Hardnes. Pria tampan berumur 26
tahun ini, telah membuat Ammy tertarik pada kisah-kisah kehidupannya. Ammy
benar-benar menikmati makan malam kali ini. Untuk pertama kalinya—sejak berada
di Auckland, Ammy bisa makan malam bersama dengan pria setampan Will. Ammy juga
merasa bahagia karena pria sebaik dan setampan Will tidak peduli pada kekurangan
yang dimiliki Ammy. Sejak Ammy menjelaskan pada Will tentang kekurangannya
melalui tulisan tadi, Will tidak mengungkit-ngungkitnya lagi.
Ammy dan Will sudah sampai di flat. Will
telah membuka sepatunya. “Terima kasih untuk malam ini. Aku senang bisa
mengenalmu.” Ucap Will ramah pada Ammy sambil tersenyum simpul. “Sama-sama…”
isyarat Ammy. Will masuk ke dalam, sedangkan Ammy masih berada di luar. Ammy
merasa belum puas dengan malam ini. Ia masih mau berada bersama Will.
*****
To be in Continued...
No comments:
Post a Comment